Tampilkan postingan dengan label B. Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label B. Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Februari 2011

Penemu Bahasa Indonesia

Wirausahawan

Wirausahawan (Inggris : Entrepreneur) adalah orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya.

Pengertian

Wirausahawan menciptakan sebuah bisnis baru dalam menghadapi risiko dan ketidakpastian untuk tujuan mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan mengidentifikasi peluang signifikan dan sumber daya yang diperlukan. Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) mendefinisikan wirausahawan sebagai "orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menyusun cara baru dalam berproduksi, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, mengatur permodalan operasinya, serta memasarkannya. Sedangkan, Louis Jacques Filion menggambarkan wirausahawan sebagai orang yang imajinatif, yang ditandai dengan kemampuannya dalam menetapkan sasaran serta dapat mencapai sasaran-sasaran itu. Ia juga memiliki kesadaran tinggi untuk menemukan peluang-peluang dan membuat keputusan. Persamaannya dari pengertian - pengertian tersebut yaitu wirausahawan memiliki dan mampu berpikir kreatif-imajinatif, melihat peluang dan membuat bisnis baru. Seorang wirausahawan adalah seorang manajer, tetapi melakukan kegiatan tambahan yang tidak dilakukan semua manajer.Manajer bekerja dalam hierarki manajemen yang lebih formal, dengan kewenangan dan tanggung jawab yang didefinisikan secara jelas sedangkan pengusaha menggunakan jaringan daripada dari kewenangan formal.

Mitos - Mitos

Mitos- mitos tentang wirausahawan katanya wirausahawan adalah pelaku, bukan pemikir.Seringkali mereka adalah orang yang sangat metodis sehingga merencanakan tindakan mereka dengan hati-hati.Mereka dilahirkan, tidak diciptakan. Hari ini, pengakuan EAS Adiscipline membantu untuk menghilangkan mitos ini. Seperti semua disiplin ilmu, wirausahawan memiliki model, proses, dan kasus yang memungkinkan topik untuk dipelajari.
  • Mereka adalah penemu, misalnya Ray Kroc, bukan ia yang menemukan waralaba makanan, tetapi ide-ide inovatifnya membuat McDonalds terbesar ke seluruh dunia.
  • Mereka adalah orang aneh akademik dan sosial, keyakinan bahwa pengusaha adalah akademisi dan sosialisi yang tidak berhasil akibat dari beberapa pemilik usaha yang memulai perusahaan yang sukses setelah putus sekolah atau berhenti bekerja tapi tidak lagi dipandang demikian, saat ini dipandang sebagai seorang profesional.
  • Orientasi wirausahawan adalah uang, uang adalah sumber daya tetapi tidak pernah menjadi tujuan akhir.
  • Semua membutuhkan keberuntungan, benar bila keberuntungan berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat akan selalu menghasilkan keuntungan. Tapi keberuntungan terjadi ketika persiapan bertemu kesempatan.
  • Wirausahawan adalah pengambil risiko yang ekstrim (penjudi), sebaliknya bekerja dengan resiko yang diperhitungkan. Wirausahawan bekerja paling sukses keras lewat perencanaan dan persiapan untuk meminimalkan risiko yang terlibat dalam rangka untuk lebih mengontrol nasib visi mereka.

Perbedaan-Perbedaan

Antara wirausahawan dengan profesi lainnya:
Kelebihan - kelebihan yang dimiliki, yaitu:
  1. Kesempatan untuk mewujudkan cita-cita.
  2. Kesempatan untuk menciptakan perubahan.
  3. Untuk mencapai potensi penuh Anda.
  4. Untuk menuai keuntungan yang mengesankan.
  5. Memberikan kontribusi kepada masyarakat dan mendapatkan pengakuan untuk usaha Anda.
  6. Dapat melakukan apa yang disukai dan bersenang-senang.
Kekurangan yang dimiliki, yakni :
  1. Ketidakpastian pendapatan, mendirikan dan menjalankan bisnis tidak memberikan jaminan akan mendapatkan cukup uang untuk bertahan hidup.
  2. Risiko kehilangan seluruh investasi, tingkat kegagalan bisnis kecil relatif tinggi.
  3. Jam kerja yang panjang dan bekerja keras, dun & Survei bradsheet melakukan survey, 65% dari wirausahawan mencurahkan waktunya 40 jam atau lebih setiap minggunya untuk perusahaan mereka.
  4. Kualitas hidup lebih rendah sampai bisnis didirikan.
  5. Tanggung jawab kompleks, banyak pengusaha diharuskan untuk membuat keputusan mengenai isu-isu di luar bidang ilmu.
  6. Putus asa,sangat membutuhkan dedikasi, disiplin, dan keuletan untuk mengatasinya.

Sikap- sikap

Sikap - sikap yang umum ditemui,yaitu:
  1. Keinginan untuk preferensi tanggung jawab atas risiko yang lebih besar, wirausahawan tidak mengambil resiko secara liar melainkan memperhitungkan terlebih dahulu risiko yang akan diambil.
  2. Keyakinan akan kemampuan mereka untuk berhasil. Biasanya memiliki kepercayan diri terhadap kemampuan mereka untuk berhasil.
  3. Keinginan untuk hasil segera.
  4. Tingkat tinggi energi, lebih energik daripada rata-rata orang.
  5. Orientasi terhadap masa depan. Berorientasi pada masa depan, wirausahawan kurang peduli dengan apa yang telah mereka lakukan kemarin dibandingkan dengan apa yang akan mereka lakukan besok.
  6. Keahlian dalam pengorganisasian, tahu bagaimana menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat.
  7. Secara efektif mencipatakan sinergi antara orang dan pekerjaan, sehingga memungkinkan wirausahawan untuk mewujudkan visi mereka menjadi kenyataan.
  8. Nilai prestasi atas uang.

Menjadi Wirausahawan

Menggali Diri

Kunci untuk mengidentifikasi jiwa pengusaha adalah dengan cara melihat karakter seseorang, khususnya pada hal-hal yang menjadi kebiasaan, alami dan dilakukan dengan baik. Setiap dari kita, memiliki susunan karakter tertentu yang menjadikan kita, apa adanya. Kami menggunakan kata Tema Karakter untuk menggambarkan unsur-unsur yang membentuk susunan karakter. Mengetahui Tema Karakter Seseorang adalah permulaan. Tema Karakter adalah inti, seperti pusat bola salju yang mengumpulkan lebih banyak salju ketika menggelinding menuruni bukit. Ia mengumpulkan pengetahuan dan pengalaman dalam prosesnya. Tema Karakter membentuk pengetahuan dan pengalaman dalam satu wilayah yang berhubungan. Bila seseorang dengan kreativitas sebagai tema karakter yang dominan, akan memiliki kemampuan lebih untuk mengatasi situasi yang membutuhkan adaptasi dan perubahan dibandingkan dengan yang memiliki tema karakter dengan kreativitas yang lebih rendah. Pengalaman Hidup dapat mengembangkan dan memperkuat tema karakter, tetapi dapat juga menguranginya. Pendidikan dan latihan juga memberikan bentuk dan ukuran bola salju, pentingnya mengetahui tema karakter kita tidak dapat diremehkan sebaliknya semakin cepat kita mengetahuinya akan lebih baik.Wirausahawan memiliki enam tema karakter utama yang membentuk akronim:
F (Focus) untuk fokus,
A (Advantage) untuk keuntungan,
C (Creativity) untuk kreativitas,
E (Ego) untuk ego,
T (Team) untuk tim,
S (Social) untuk sosial.

Memulai Usaha

Ada empat subkategori menjadi wirausahawan:
  1. Penemu, mendefinisikan konsep, unik, baru, penemuan atau metodologi
  2. Inovator, menerapkan sebuah teknologi baru atau metodologi untuk memecahkan masalah baru.
  3. Marketer, mengidentifikasi kebutuhan di pasar dan memenuhinya dengan produk baru atau produk substitusi yang lebih efisien.
  4. Oportunis, pada dasarnya sebuah broker, pialang, yang menyesuaikan antara kebutuhan dengan jasa diberikan dan komisi.

Kemampuan yang Diperlukan

Keterampilan yang dibutuhkan oleh para pengusaha dapat dikelompokkan menjadi tiga area utama: keterampilan teknis seperti menulis, mendengarkan, presentasi lisan, pengorganisasian, pembinaan, bekerja dalam tim, dan teknis tahu-bagaimana(know-how), keterampilan manajemen usaha termasuk hal-hal dalam memulai , mengembangkan, dan mengelola perusahaan. Keterampilan dalam membuat keputusan, pemasaran, manajemen, pembiayaan, akuntansi, produksi, kontrol, dan pemasaran juga sangat penting dalam membangun dan mengembangkan usaha baru. Keterampilan terakhir melibatkan keterampilan kewirausahaan. Beberapa keterampilan ini, membedakan pengusaha dari manajer termasuk disiplin, pengambil risiko, inovatif, teguh, kepemimpinan visioner, dan yang berorientasi perubahan.

Kesalahan umum dan Solusi

Berikut adalah sepuluh kesalahan umum yang sering dilakukan oleh wirausahawan, saat awal menjalankan bisnisnya:
  1. Kesalahan dalam Mengelola
  2. Kurangnya Pengalaman
    Manajer bisnis kecil perlu memiliki pengalaman jika mereka ingin mengembangkan usahanya.



  3. Kontrol Keuangan Kurang
    Bisnis yang sukses membutuhkan kontrol keuangan yang tepat.



  4. Upaya Pemasaran yang Lemah,
    Membangun konsumen untuk bertambah secara berkesinambungan membutuhkan usaha, pemasaran secara terus-menerus dan kreatif. Slogan, pelanggan secara otomatis akan datang, hampir tidak pernah terjadi.



  5. Kegagalan untuk Mengembangkan Rencana Strategis.
    Gagal dalam merencanakan, berarti gagal untuk bertahan.



  6. Pertumbuhan Tidak Terkendali
    Pertumbuhan adalah hal yang alami, sehat dan diinginkan oleh setiap perusahaan. Namun, harus direncanakan dan dikendalikan. Pakar manajemen Peter Drucker berkata perusahaan-perusahaan baru lebih baik untuk memperkirakan pertumbuhan modal hanya setiap peningkatan penjualan 40 hingga 50 persen.



  7. Lokasi Kurang Strategis
    Memilih lokasi yang tepat adalah sebagian seni dan sebagian ilmu. Seringkali, lokasi bisnis dipilih tanpa penelitian yang benar, investigasi, dan perencanaan.



  8. Kontrol Persediaan yang Barang Buruk
    Pengendalian persediaan barang adalah salah satu tanggung jawab manajerial yang sering terabaikan.



  9. Harga Tidak Tepat
    Menetapkan harga yang tepat sehingga menghasilkan keuntungan yang diperkirakan menuntut pemilik bisnis mengerti berapa biaya untuk membuat, memaasarkan dan mendistribusikan barang dan jasa.









  10. Ketidakmampuan dalam Membuat Transisi Entreprenurial
    Setelah memulai,akan terjadi pertumbuhan, biasanya membutuhkan gaya manajemen yang sangat berbeda. Pertumbuhan mengharuskan wirausahawan untuk mendelegasikan wewenangnya dan tidak menangani - kegiatan operasional sehari-hari - sesuatu yang tidak bisa dilakukan olehnya.





Berikut adalah solusi untuk mengatasinya:
  1. Mengenal bisnis secara mendalam.
  2. Mengembangkan rencana bisnis yang matang.
  3. Mengelola keuangan.
  4. Memahami laporan keuangan.
  5. Belajar mengelola manusia secara efektif.
  6. Jaga kondisi Anda.


Profesor Lionel Lakmus

Informasi Umum
Penerbit Bendera Belgia Casterman
Bendera Indonesia Indira, Gramedia
Muncul pertama kali di Harta Karun Rackham Merah
Pencipta Hergé
Informasi tentangnya dalam cerita
Nama lainnya Professeur Tryphon Tournesol
Professor Cuthbert Calculus
Karakter Agak tunarungu, keras kepala, lemah lembut pada wanita, dan ahli berbagai hal.
Keahlian Penemu serbabisa.

Profesor Lakmus memiliki nama lengkap Profesor Lionel Lakmus (dalam Bahasa Perancis: Professeur Tryphon Tournesol, bahasa Inggris: Professor Cuthbert Calculus). Bila namanya diterjemahkan secara langsung adalah Profesor Tryphonius Bunga Matahari atau Profesor Tryphonius Kertas Lakmus, adalah salah satu tokoh fiksi dalam serial Petualangan Tintin. Ia adalah seorang yang membingungkan, dan memiliki kekurangan pada pendengarannya, namun banyak menciptakan peralatan yang cukup rumit dalam serial Petualangan Tintin, seperti kapal selam untuk satu orang yang memilik bentuk seperti seekor ikan hiu, roket yang dipergunakan untuk pergi ke bulan dan senjata ultrasuara.

Latar Belakang

Dia muncul untuk pertama kalinya dalam cerita 'Harta Karun Rackham Merah', dan merupakan hasil dari usaha bertahun-tahun dari sang pengaras Hergé untuk menemukan tokoh profesor yang benar-benar gila atau linglung: seperti Dr. Sarcophagus dalam 'Cerutu Sang Firaun' dan Profesor Alembick dalam 'Tongkat Ottokar'. Namun karakternya berkembang menjadi semakin komplek seiring dengan perkembangan cerita ini.
Untuk karakternya, Hergé telah memiliki model yang sudah diincarnya sejak lama dengan cara mengumpulkan guntingan-guntingan surat kabar yang menampilkan penemu/fisikawan terkenal dari Swiss yang memiliki ambisi untuk terbang tinggi di angkasa dan menyelam di laut lebih dalam dari siapapun. Hal itu dilihat oleh Hergé ada pada diri Profesor Auguste Piccard. Bahkan setelah 9 tahun episode Harta Karun Rackham Merah dibuat oleh Hergé, Picard berhasil memecahkan rekor penyelaman di dalam laut dengan kapal selam "bathyscaphe"nya. Hergé mendapatkan inspirasi akan tokoh ini ketika melihat Picard di jalanan di kota Brussel ketika ia sedang mengajar sebagai seorang profesor di salah satu universitas dari tahun 19922 - 1954. Sama dengan tokoh inspirasinya di dunia nyata yang mendapatkan banyak pengakuan dan penghargaan, Profesor Lakmus juga mendapatkan penghargaan dan pengakuan dari pemerintahan Syldavia atas pekerjaannya yang bisa membawa manusia untuk pertama kalinya pergi dan mendarat di bulan serta kembali dengan selamat. Bahkan dalam cerita Penerbangan 714 ke Sydney, si Profesor ditemani Tuntin, Milo serta Kapten Haddock diundang sebagai tamu kehormatan dalam suatu pertemuan ilmiah.

Karakter

Umum

Walaupun dalam asal-usul dari gelar yang disandangnya tidak pernah secara jelas diceritakan, dalam serial Petualangan Tintin ini ia ditampilkan bahwa ia memiliki ahli dalam segala ilmu pengetahuan, mencapai tingkat tertinggi dalam berbagai bidang, termasuk Fisika Nuklir, Kimia, Mesin dan Biologi. Banyak sekali temuannya yang hampir mirip atau meniru pencapaian teknologi dalam dunia nyata pada masa itu, dimana yang paling banyak dikenang adalah Roket Bulan, dan juga percobaannya yang gagal dalam pembuatan televisi berwarna. Ia selalu ingin memberikan kebaikan bagi umat manusia atas penemuan-penemuannya, seperti pil yang menyembuhkan penyakit kecanduan alkohol yang bekerja dengan cara membuat alkohol rasanya tidak enak bagi sang pasien, dan menolak untuk mempergunakan talentanya untuk menciptakan suatu senjata pemusnah masal. Banyak temuannya yang tidak disukai oleh Kapten Haddock, walaupun dia menafsirkannya menjadi sebaliknya: ketuliannya membuatnya mengsalah artikan kata-kata dari Kapten Haddock, mencegahnya mendengar pendapatnya yang sebenarnya
Ketuliannya seringkali menjadi bahan dari bahan kelucuan dalam hubungan dengan orang lain, dimana seringkali ia mengulangi kembali apa yang dikiranya didengarnya, seringnya berkebalikan dengan apa yang diucapkan oleh lawan bicaranya. Pola ini dikenal dengan baik dalam dunia Lenong Indonesia dan dimainkan dengan baik oleh tokoh Lenong, Pak Bolot. Bahkan, seringkali dia mengalihkan subyek pembicaraan dengan jawaban yang tidak sesuai. Sebagai contoh, atas suatu pertanyaan "Tetapi Saya tidak pernah tahu bahwa Anda memiliki..." akan dijawabnya dengan "Tidak, anak muda, Saya tidak gila!". Dia tidak pernah merasa minder ataupun terganggun dengan ketuliannya, bahkan seringkali hal ini menimbulkan keputus asaan bagi teman-temannya. Dia sendiri tidak pernah mengakui bahwa dia mengalami gangguan pendengaran dan tetap ngotot bahwa ia hanya "agak sulit mendengar pada salah satu telinganya."
Dalam episode Petualangan di bulan, dia bahkan memimpin sebuah team yang beranggotakan para ilmuwan dan mekanik yang bekerja bahu membahu dalam membuat suatu proyek besar, Roket ke Bulan, membuatnya termotivasi untuk memiliki alat bantu dengar. Dan dengan alat tersebut yang dipakainya selama petualangan itu, membuatnya dapat mendengar dengan jelas dan baik. Hal ini membuatnya menjadi karakter yang lebih serius, dan bahkan menunjukkan jiwa kepemimpinan yang berintegritas tinggi, dimana hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Namun sayangnya ketika menyelesaikan misi ini, dia kehilangan alat bantu dengarnya, dan membuat teman-temannya kembali ke kondisi semula (kecuali dalam salah satu adegan dari cerita Permata Castafiore, dimana Tintin memaksanya untuk memakainya dalam rangka menyelesaikan suatu kesalah pahaman dalam suatu siaran TV); dan hal ini mengembalikan kelucuan disekelilingnya, walaupun menurutnya, ketuliannya itu sangat membantunya untuk bisa tetap fokus pada pekerjaannya.
Walaupun dia seringkali tokoh yang pelupa, namun dia akan menjadi sangat marah ketika si Kapten atau siapapun memanggilnya dengan julukan "kambing". Salah satu adegan yang paling terkenal adalah ketika ia menjadi marah besar ketika Kapten Haddock menjuluki tindakannnya seperti seeokor kambing ketika ia sedang membuat roket yang akan diterbangkan ke Bulan. Dalam adegan tersebut terlihat sangat sensitif ketika ada orang yang menghina hasil karyanya di dunia ilmu pengetahuan, dan hal itu bisa membuatnya marah besar.
Walaupun begitu, dia adalah sahabat yang terbaik dari para tokoh utama kita. Haddock mengundangnya untuk tinggal bersamanya di Puri Moulinsart yang dibeli oleh Lakmus atas nama si Haddock mempergunakan uang dari hasil menjual hak patennya atas temuannya tentang kapal selam yang berbentuk ikan hiu sebagaimana terlihat pada episode Harta Karun Rackham Merah dan Rahasia Unicorn. Tintin dan Haddock juga crossed the world on at least two occasions (Prisoners of the Sun and The Calculus Affair) in order to save him from kidnappers.
Ia adalah seorang yang sangat percaya terhadap ilmu mencari sumber air, dan oleh karenanya ia selalu membawa pendulum. Ia kadang-kadang berkata bahwa ia adalah seorang atlet yang hebat semasa mudanya dengan gaya hidup yang aktif. Ia juga berkata bahwa dulu ia berlatih ilmu bela diri Perancis, savetan, walaupun suatu peristiwa dalam cerita 'Penerbangan 714' menunjukkan bahwa ia sudah tidak jago lagi.

Keluarga

Tidak sebagaimana Kapten Haddock yang digambarkan memiliki nenek moyang, Sir Francis Haddock, tokoh ini digambarkan tidak memiliki keluarga sama sekali dan itu digambarkan dalam salah satu dialognya, "Aku tidak punya saudara.." seperti yang terlihat dalam episode Tintin dan Picaros.

Tokoh Sejenis

Lakmus adalah merupakan tokoh ilmuwan yang selama ini dicari-cari oleh Herge untuk melengkapi cerita Petualangan Tintin. Selain dirinya ada juga beberapa tokoh ilmuwan sejenis yang memiliki sifat hampir mirip dengannya, yaitu:
  • Dr. Sophocles Sarcophagus dari episode Cerutu Sang Firaun dimana selalu terlihat sebagai orang yang teramat canggung dan pelupa sebelum akhirnya dia menjadi gila.

Sang Profesor yang pelupa dan salah dalam membawa payung
  • Seorang profesor yang muncul sekilas dalam cerita Si Kuping Belah dimana ia bertemu dengan seekor burung kakatua milik Mr. Balthazar. Dia terlupa untuk membawa kacamatanya, memakai mantel wanita milik pembersih rumahnya, memegang tongkatnya secara terbalik yang dikiranya adalah payungnya, salah menyangka seekor burung kakatua yang disangkanya seseorang dan meninggalkan tasnya di salah tiang lampu jalanan. Dalam edisi aslinya yang diterbitkan tahun 1935 oleh Casterman, ia diberi nama Profesor Euclide, yang diambil dari nama seorang ahli matematika berkebangsaan Yunani dan dikenal sebagai Bapak Geometri.
  • Profesor Hector Alembick yang muncul dalam episode Tongkat Ottokar, dimana dia selalu kebiasaan buruk dengan membuang puntung rokok sembarangan dan salah satunya pernah mengenai Milo.
  • Dua orang ahli astronomi yang muncul dalam episode Bintang Misterius, dimana salah satunya bahkan menjadi gila. Philippulus the Prophet mewakili dilema yang dihadapi oleh para ahli antara mengedepankan penelitian ataukah lebih mengagungkan kepercayaanya. Pada kasus ini konflik ini telah mempengaruhi seluruh pikirannya, apalagi ketika diketahui bahwa akhir dari dunia ini akan segera terjadi. Dia kemudian memakai "cover bed" dan memukul-mukul gong untuk memberitahu yang lainnya tentang akan datangnya "Hari Pembalasan", dan juga mengganggu keberangkatan dari kapal ekspedisi yang akan berangkat untuk mencari reruntuhan meteorit itu. Sedangkan yang satunya, Profesor Decimus Phostle turut serta dalam ekspedisi itu dan berhasil mendapatkan bukti akan adanya logam baru yang dikandung oleh meteorit itu.
Pengenalan Lakmus, nampaknya telah melengkapi tokoh-tokoh yang diciptakan Herge dengan tokoh yang bisa mewakili idenya untuk menampilkan seorang lelaki sebagai ilmuwan. Sedangkan tokoh lainnya yang pernah mengenyam pendidikan tinggi, digambarkannya memiliki emosi lebih stabil, dan dewasa. Sebagai contohnya adalah para anggota ekspedisi arkeologi yang menjadi korban dalam episode 7 bola Kristal, terlihat tidak memiliki prilaku eksentrik. Salah tokoh yang pernah menjadi teman dari Lakmus adalah Hercules Tarragon, dimana mereka pernah mengenyam pendidikan di universitas yang sama.
Walaupun terlihat sering bekerja sendirian, namun sebenarnya Lakmus sering melakukan korespondensi dengan rekan-rekannya sesama ilmuwan   dan kadang-kadang bekerja sama dalam sebuah team dengan mereka dalam suatu proyek. Yang paling jelas terlihat adalah dalam episode Perjalanan ke Bulan dimana dia bekerja sama dengan Baxter dan Frank Woff dalam pembuatan roket untuk pergi ke bulan. Selain itu ia juga digambarkan melakukan korespondensi dengan ahli ultrasonic Alfredo Topolino yang berasal dari Nyon dalam episode Penculikan Lakmus.
Dia memiliki labolaturiumnya sendiri di Puri Moulinsart, dimana ia menjalankan berbagai percobaan. Ia sangat melindungi hasil karyanya, dan bahkan menyembunyikannya dari dua teman baiknya Tintin dan Kapten Haddock, yang mana membuat mereka terlibat dalam kesulitan dalam episode Penculikan Lakmus. Dalam episode Di Negeri Emas Hitam, dalam rangka mencari penawar dari "Formula Fourteen", dia bahkan hampir saja merusakkan separuh dari Puri Moulinsart.

Nama

Dalam cerita aslinya yang dituturkan dalam Bahasa Peracis, namanya adalah Professeur Tryphon Tournesol. Yang secara harfiah bisa diterjemahkan menjadi Profesor Tryphon "Bunga Matahari". Penggunaan nama yang diambil secara harfiah ini bisa dilihat pada serial Petualangan Tintin yang dialih bahasakan ke Bahasa Belanda, dimana ia bernama Professor Zonnebloem. Dimana Zonnebloem artinya adalah bunga matahari. Jika mengacu ke namanya yang ada dalam edisi aslinya yang berBahasa Perancis (Professeur Tryhphon Tournesol), Professeur sendiri juga bisa diartikan sebagai guru, dosen, atau orang yang memiliki pekerjaan sebagai pengajar, selain Profesor itu sendiri.
Dalam edisi Bahasa Indonesia dia mengalami dua kali perubahan nama. Yang pertama dia bernama Profesor Cuthbert Calculus, sebagaimana yang terlihat dalam semua komik Petualangan Tinti yang diterbikan oleh Indira. Sedangkan namanya berubah menjadi Profesor Lionel Lakmus, ketika hak terjemahan dari serial terkenal ini beralih ke tangan Gramedia. Jika dicermati, apapun namanya, baik nama depan ataupun nama belakangnya diawali oleh huruf yang sama. Pola ini juga dilakukan oleh pihak Gramedia ketika mencari nama yang tepat untuk tokoh ini. Untuk nama belakangnya telah didapatkan, "Lakmus", kertas yang dipergunakan untuk mengetahui tingkat ke-asam-an/ke-basa-an (pH) dari suatu cairan. Nama Lionel dilekatkan sebagai nama depan karena nama itu cukup unik dan bisa mewakili pola pemakaian huruf yang sama untuk namanya.
Adapun namanya dalam bahasa lainnya adalah:
  • Arabic: Professor Bergel
  • Catalan: Silvestre Tornassol
  • Danish: Professor Tournesol
  • Dutch: Professor Zonnebloem
  • Finnish: Teophilus Tuhatkauno
  • German: Balduin Bienlein
  • Greek: Καθηγητής Τουρνεσόλ
  • Icelandic: Prófessor Vilhjálmur Vandráður
  • Inggris: Profesor Cuthbert Calculus
  • Italian: Professor Girasole
  • Portuguese: Trifólio Girassol
  • Spanish: Silvestre Tornasol
  • Swedish: Karl Kalkyl
  • Turkish: Profesör Turnusol

Temuan-temuannya


Si Detektif Kembar, Dupont dan Dupond yang meminum pil temuan Profesor Lakmus
Sebagaimana yang digambarkan dalam komik Petualangan Tinti, tokoh ini digambarkan menemukan berbagai temuan yang sangat berguna untuk umat manusia. Diantara temuan-temuannya yang terkenal adalah:
  • Episode Harta Karun Rackham Merah: Tempat tidur yang bisa dilipat masuk ke dinding, mesin penyikat otomatis, kapal selam untuk satu orang yang berbentuk seperti ikan hiu.
  • Episode Di Negeri Emas Hitam: Obat penawar untuk formula 14.
  • Episode Perjalanan ke Bulan: Roket percobaan X - FLR 6, Tournesolite.
  • Episode Petualangan di Bulan: Roket yang membawa manusia pertama yang mendarat di Bulan, baju ruang angkasa, mobil penjelajah di Bulan.
  • Episode Penculikan Lakmus: Senjata "ultrasonic"
  • Episode Laut Merah: Roller skate bermotor, yang dirancangnya untuk menyelesaikan permasalahan mengenai kemacetan yang ada di kota-kota besar.
  • Episode Permata Castafiore: Sebuah protipe pesawat televisi berwarna yang disebutnya sebagai "Supercolor-Tryphonar", bunga mawar putih yang merupakan varietas baru.
  • Episode Tintin dan Picaros: Obat yang bisa diberikan kepada para penggemar alkohol sehingga mereka tidak menyukai minuman itu lagi. Obat ini membuat rasa alkohol menjadi berasa seperti air putih saja.

Hubungan dengan lawan jenis

Tokoh ini adalah tokoh satu-satunya yang digambarkan hanya memiliki ketertarikan pada wanita. Hal ini sangat jelas terlihat dalam hubungannya dengan Bianca Castafiore, yang membuatnya jatuh hati padanya ketika sang diva tinggal cukup lama di Puri Moulinsart dalam episode Permata Castafiore. Dalam masa itu pula, sebagai seorang ahli di bidang botani, dia berhasil melakukan percobaan untuk menciptakan suatu jenis baru dari bunga mawar, yaitu bunga mawar putih yang diberinya nama "Bianca" sebagai penghargaannya pada sang Diva. Walaupun begitu dalam sukanya pada sang Diva, namun dia tidak memendam rasa benci ketika dia tahu bahwa Kapten Haddock telah bertunangan dengan sang Diva yang dibacanya dari salah satu tabloid, dan menyampaikan ucapan selamat yang tulus. Namun tanpa diketahuinya itu hanyalah berita-berita gosip yang sering dipakai oleh tabloid dalam pemberitaan seorang artis terkenal.
Dalam episode Tintin dan Picaros dia juga menunjukkan kekhawatirannya ketika sang diva dijebloskan ke penjara dan mau menjadi pembelanya. Dalam buku yang sama, dia juga terkesan dengan Peggy Alcazar (istri dari Jenderal Alcazar) dan mencium takzim tangannya setelah ia mengkritik Tintin dan Kapten Haddock yang disalah artikannya sebagai penghormatan untuk kedua temannya itu.

Bahasa Melayu

Bahasa Melayu

Bahasa Melayu
بهاس ملايو
Dituturkan di Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura selatan Filipina, selatan Thailand, Timor Leste, Sri Langka, Afrika Selatan, dan Australia (Pulau Christmas dan Kepulauan Cocos).
Dialek standar nasional di Indonesia dikenal sebagai Bahasa Indonesia.
Jumlah penutur Penutur asli: 7–18 juta
total 200–300 juta
Peringkat 6 (termasuk penutur non-bahasa ibu)
Rumpun bahasa Austronesia
 Melayu-Polinesia
  Melayu-Polinesia Barat
   Sundik
     Melayik
      Malaya
      Melayu Lokal
       Melayu
Status resmi
Bahasa resmi di Brunei, Indonesia (sebagai Bahasa Indonesia), Malaysia (sering dinamakan bahasa Malaysia), Singapura
Diatur oleh Dewan Bahasa dan Pustaka (Malaysia), Pusat Bahasa (Indonesia), Majelis Bahasa Brunei Darussalam – Indonesia – Malaysia (MABBIM) (gabungan)
Kode-kode bahasa
ISO 639-1 ms
ISO 639-2 may/msa 
Ethnologue edisi ke-14: MLI
ISO 639-3
Bahasa Melayu mencakup sejumlah bahasa yang saling bermiripan yang dituturkan di wilayah Nusantara dan beberapa tempat lain. Sebagai bahasa yang luas pemakaiannya, bahasa ini menjadi bahasa resmi di Brunei, Indonesia (sebagai bahasa Indonesia), dan Malaysia (juga dikenal sebagai bahasa Malaysia); bahasa nasional Singapura; dan menjadi bahasa kerja di Timor Leste (sebagai bahasa Indonesia). Bahasa Melayu merupakan lingua franca bagi perdagangan dan hubungan politik di Nusantara pada masa pra-kolonial. Migrasi kemudian juga turut memperluas pemakaiannya. Selain di negara yang disebut sebelumnya, bahasa Melayu dituturkan pula di Afrika Selatan, Sri Lanka, Thailand selatan, Filipina selatan, Myanmar selatan, sebagian kecil Kamboja, hingga Papua Nugini. Bahasa ini juga dituturkan oleh penduduk Pulau Christmas dan Kepulauan Cocos, yang menjadi bagian Australia.
Bahasa Melayu termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia dan catatan tertulis pertama dalam bahasa Melayu ditemukan di pesisir tenggara Pulau Sumatera, di wilayah yang sekarang dianggap sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya. Istilah "Melayu" sendiri berasal dari Kerajaan Malayu yang bertempat di Batang Hari, Jambi. Akibat penggunaannya yang luas, berbagai varian bahasa dan dialek Melayu berkembang di Nusantara.

Tanah asal-usul penutur bahasa Melayu

Ada tiga teori yang dikemukakan tentang asal-usul penutur bahasa Melayu (atau bentuk awalnya sebagai anggota bahasa-bahasa Dayak Malayik). Kern (1888) beranggapan bahwa tanah asal penutur adalah dari Semenanjung Malaya dan menolak Borneo sebagai tanah asal. Teori ini sempat diterima cukup lama (karena sejalan dengan teori migrasi dari Asia Tenggara daratan) hingga akhirnya pada akhir abad ke-20 bukti-bukti linguistik dan sejarah menyangkal hal ini (Adelaar, 1988; Belwood, 1993) dan teori asal dari Sumatera yang menguat, berdasarkan bukti-bukti tulisan. Hudson (1970) melontarkan teori asal dari Kalimantan, berdasarkan kemiripan bahasa Dayak Malayik (dituturkan orang-orang Dayak berbahasa Melayu) dengan bahasa Melayu Kuna, penuturnya yang hidup di pedalaman, dan karakter kosa kata yang konservatif.

Sejarah

Lihat pula: Sejarah Bahasa Indonesia
Bahasa Melayu termasuk dalam bahasa-bahasa Melayu Polinesia di bawah rumpun bahasa Austronesia. Menurut statistik penggunaan bahasa di dunia, penutur bahasa Melayu diperkirakan mencapai lebih kurang 250 juta jiwa yang merupakan bahasa keempat dalam urutan jumlah penutur terpenting bagi bahasa-bahasa di dunia.
Catatan tertulis pertama dalam bahasa Melayu Kuna berasal dari abad ke-7 Masehi, dan tercantum pada beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya di bagian selatan Sumatera dan wangsa Syailendra di beberapa tempat di Jawa Tengah. Tulisan ini menggunakan aksara Pallawa. Selanjutnya, bukti-bukti tertulis bermunculan di berbagai tempat, meskipun dokumen terbanyak kebanyakan mulai berasal dari abad ke-18.
Sejarah penggunaan yang panjang ini tentu saja mengakibatkan perbedaan versi bahasa yang digunakan. Ahli bahasa membagi perkembangan bahasa Melayu ke dalam tiga tahap utama, yaitu
  • Bahasa Melayu Kuna (abad ke-7 hingga abad ke-13)
  • Bahasa Melayu Klasik, mulai ditulis dengan huruf Jawi (sejak abad ke-15)
  • Bahasa Melayu Modern (sejak abad ke-20)
Walaupun demikian, tidak ada bukti bahwa ketiga bentuk bahasa Melayu tersebut saling bersinambung. Selain itu, penggunaan yang meluas di berbagai tempat memunculkan berbagai dialek bahasa Melayu, baik karena penyebaran penduduk dan isolasi, maupun melalui kreolisasi.
Selepas masa Sriwijaya, catatan tertulis tentang dan dalam bahasa Melayu baru muncul semenjak masa Kesultanan Malaka (abad ke-15). Laporan Portugis dari abad ke-16 menyebut-nyebut mengenai perlunya penguasaan bahasa Melayu untuk bertransaksi perdagangan. Seiring dengan runtuhnya kekuasaan Portugis di Malaka, dan bermunculannya berbagai kesultanan di pesisir Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, serta selatan Filipina, dokumen-dokumen tertulis di kertas dalam bahasa Melayu mulai ditemukan. Surat-menyurat antarpemimpin kerajaan pada abad ke-16 juga diketahui telah menggunakan bahasa Melayu. Karena bukan penutur asli bahasa Melayu, mereka menggunakan bahasa Melayu yang "disederhanakan" dan mengalami percampuran dengan bahasa setempat, yang lebih populer sebagai bahasa Melayu Pasar (Bazaar Malay). Tulisan pada masa ini telah menggunakan huruf Arab (kelak dikenal sebagai huruf Jawi) atau juga menggunakan huruf setempat, seperti hanacaraka.
Rintisan ke arah bahasa Melayu Modern dimulai ketika Raja Ali Haji, sastrawan istana dari Kesultanan Riau Lingga, secara sistematis menyusun kamus ekabahasa bahasa Melayu (Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama) pada pertengahan abad ke-19. Perkembangan berikutnya terjadi ketika sarjana-sarjana Eropa (khususnya Belanda dan Inggris) mulai mempelajari bahasa ini secara sistematis karena menganggap penting menggunakannya dalam urusan administrasi. Hal ini terjadi pada paruh kedua abad ke-19. Bahasa Melayu Modern dicirikan dengan penggunaan alfabet Latin dan masuknya banyak kata-kata Eropa. Pengajaran bahasa Melayu di sekolah-sekolah sejak awal abad ke-20 semakin membuat populer bahasa ini.
Di Indonesia, pendirian Balai Poestaka (1901) sebagai percetakan buku-buku pelajaran dan sastra mengantarkan kepopuleran bahasa Melayu dan bahkan membentuk suatu varian bahasa tersendiri yang mulai berbeda dari induknya, bahasa Melayu Riau. Kalangan peneliti sejarah bahasa Indonesia masa kini menjulukinya "bahasa Melayu Balai Pustaka" atau "bahasa Melayu van Ophuijsen". Van Ophuijsen adalah orang yang pada tahun 1901 menyusun ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin untuk penggunaan di Hindia-Belanda. Ia juga menjadi penyunting berbagai buku sastra terbitan Balai Pustaka. Dalam masa 20 tahun berikutnya, "bahasa Melayu van Ophuijsen" ini kemudian dikenal luas di kalangan orang-orang pribumi dan mulai dianggap menjadi identitas kebangsaan Indonesia. Puncaknya adalah ketika dalam Kongres Pemuda II (28 Oktober 1928) dengan jelas dinyatakan, "menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia". Sejak saat itulah bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa kebangsaan.
Introduksi varian kebangsaan ini mendesak bentuk-bentuk bahasa Melayu lain, termasuk bahasa Melayu Tionghoa, sebagai bentuk cabang dari bahasa Melayu Pasar, yang telah populer dipakai sebagai bahasa surat kabar dan berbagai karya fiksi di dekade-dekade akhir abad ke-19. Bentuk-bentuk bahasa Melayu selain varian kebangsaan dianggap bentuk yang "kurang mulia" dan penggunaannya berangsur-angsur melemah.
Pemeliharaan bahasa Melayu baku (bahasa Melayu Riau) terjaga akibat meluasnya penggunaan bahasa ini dalam kehidupan sehari-hari. Sikap orang Belanda yang pada waktu itu tidak suka apabila orang pribumi menggunakan bahasa Belanda juga menyebabkan bahasa Melayu menjadi semakin populer.
Pada awal tahun 2004, Dewan Bahasa dan Pustaka (Malaysia) dan Majelis Bahasa Brunei Darussalam - Indonesia - Malaysia (MABBIM) berencana menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi dalam organisasi ASEAN, dengan memandang lebih separuh jumlah penduduk ASEAN mampu bertutur dalam bahasa Melayu. Rencana ini belum pernah terealisasikan, tetapi ASEAN sekarang selalu membuat dokumen asli dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan ke dalam bahasa resmi masing-masing negara anggotanya.

Varian-varian bahasa Melayu

Lihat artikel utama: Daftar varian bahasa Melayu
Bahasa Melayu sangat bervariasi. Penyebab yang utama adalah tidak adanya institusi yang memiliki kekuatan untuk mengatur pembakuannya. Kerajaan-kerajaan Melayu hanya memiliki kekuatan regulasi sebatas wilayah kekuasaannya, padahal bahasa Melayu dipakai oleh orang-orang jauh di luar batas kekuasaan mereka. Akibatnya muncul berbagai dialek (geografis) maupun sosiolek (dialek sosial). Pemakaian bahasa ini oleh masyarakat berlatar belakang etnik lain juga memunculkan berbagai varian kreol di mana-mana, yang masih dipakai hingga sekarang. Bahasa Betawi, suatu bentuk kreol, bahkan sekarang mulai mempengaruhi secara kuat bahasa Indonesia akibat penggunaannya oleh kalangan muda Jakarta dan dipakai secara meluas di program-program hiburan televisi nasional.
Ada kesulitan dalam mengelompokkan bahasa-bahasa Melayu. Sebagaimana beberapa bahasa di Nusantara, tidak ada batas tegas antara satu varian dengan varian lain yang penuturnya bersebelahan secara geografis. Perubahan dialek seringkali bersifat bertahap. Untuk kemudahan, biasanya dilakukan pengelompokan varian sebagai berikut:
  1. Bahasa-bahasa Melayu Tempatan (Lokal)
  2. Bahasa-bahasa Melayu Kerabat (Paramelayu, Paramalay = Melayu "tidak penuh")
  3. Bahasa-bahasa kreol (bukan suku/penduduk melayu) berdasarkan bahasa Melayu
Jumlah penutur bahasa Melayu di Indonesia sangat banyak, bahkan dari segi jumlah melampaui jumlah penutur bahasa Melayu di Malaysia maupun di Brunei Darussalam. Bahasa Melayu dituturkan mulai sepanjang pantai timur Sumatera, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu hingga pesisir Pulau Borneo dan kota Negara, Bali.

Dialek Melayu Indonesia

  • Dialek Tamiang : dituturkan di kabupaten Aceh Tamiang, Nanggroe Aceh Darussalam
  • Dialek Langkat : dituturkan di kawasan Langkat, Sumatera Utara
  • Dialek Deli : dituturkan di Medan, Deli Serdang dan Serdang Bedagai
  • Dialek Asahan : dituturkan di sepanjang wilayah pesisir kabupaten Asahan
  • Dialek Kualuh : dituturkan di sepanjang wilayah aliran hulu sampai hilir sungai Kualuh kabupaten Labuhanbatu Utara
  • Dialek Bilah : dituturkan di sepanjang wilayah hilir aliran sungai Bilah kabupaten Labuhanbatu
  • Dialek Panai : dituturkan di sepanjang wilayah hilir aliran sungai Barumun kabupaten Labuhanbatu
  • Dialek Kotapinang : dituturkan di sepanjang wilayah aliran sungai Barumun kabupaten Labuhanbatu Selatan
  • Dialek Melayu Riau : dituturkan di kawasan Kepulauan Riau
  • Dialek Melayu Riau Daratan : terbagi atas beberapa dialek lainnya tergantung wilayah (Siak, Rokan, Inderagiri, Kuantan)
  • Dialek Anak Dalam : kemungkinan termasuk kelompok Kubu, Talang Mamak di kawasan Riau dan Jambi
  • Dialek Melayu Jambi : dituturkan di provinsi Jambi
  • Dialek Melayu Bengkulu : dituturkan di kota Bengkulu
  • Dialek Melayu Palembang : dituturkan di kota Palembang dan Kota Muara Enim dan sekitarnya
  • Dialek Bangka-Belitung : dituturkan di provinsi Bangka-Belitung
  • Dialek Pontianak : dituturkan di kabupaten Pontianak dan kota Pontianak, Kalimantan Barat
  • Dialek Landak : kabupaten Landak dan sekitarnya, Kalimantan Barat
  • Dialek Sambas : dituturkan di kabupaten Sambas dan sekitarnya,Kalimantan Barat
  • Dialek Ketapang : dituturkan di kabupaten Ketapang dan sekitarnya, Kalimantan Barat.
  • Dialek Berau : dituturkan di kabupaten Berau dan sekitarnya, Kalimantan Timur
  • Dialek Kutai : dipakai di kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur
  • Dialek Loloan : dituturkan di kota Negara, Jembrana, Bali.
Dialek Riau Kepulauan dan beberapa kawasan di Riau Daratan dituturkan sama seperti Dialek Johor.

Bahasa kerabat Melayu

"Bahasa kerabat" adalah bahasa-bahasa lain yang serupa dengan Bahasa Melayu, namun masih ada perbedaan pendapat mengenai soal itu. Mereka adalah
  1. Bahasa Minangkabau (min) di Sumatera Barat
  2. Bahasa Banjar (bjn) di Kalimantan Selatan
  3. Bahasa Kedayan (kxd) (Suku Kedayan) di Brunei, Sarawak
  4. Dialek Melayu Kedah (meo) (Melayu Satun)
  5. Dialek Melayu Pulau Kokos (coa)
  6. Dialek Melayu Pattani (mfa)
  7. Dialek Melayu Sabah (msi)
  8. Dialek Melayu Bukit(Bahasa Bukit) (bvu) (Suku Dayak Bukit) di Kalimantan Selatan
  9. Bahasa Serawai (srj) di Bengkulu
  10. Bahasa Rejang (rej) di Rejang Lebong, Bengkulu
  11. Bahasa Lebong di Lebong, Bengkulu
  12. Bahasa Rawas (rws) di Musi Rawas, Sumatera Selatan
  13. Bahasa Penesak (pen) di Prabumulih, Sumatera Selatan
  14. Bahasa Komering di Ogan Komering Ulu dan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan
  15. Bahasa Enim (eni)
  16. Bahasa Musi (mui)
  17. Bahasa Kaur (vkk)
  18. Bahasa Kerinci/(Kerinci-Sakai-Talang Mamak)(vkr)
  19. Bahasa Kubu (kvb)
  20. Bahasa Lematang (lmt)
  21. Bahasa Lembak (liw)
  22. Bahasa Lintang (lnt)
  23. Bahasa Lubu (lcf)
  24. Bahasa Loncong/Orang Laut (lce)
  25. Bahasa Sindang Kelingi (sdi)
  26. Bahasa Semendo (sdd)
  27. Bahasa Rawas (rws)
  28. Bahasa Ogan (ogn)di Ogan Ilir, Ogan Komering Ulu dan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan
  29. Bahasa Pasemah ( pse) di Sumatera Selatan
  30. Bahasa Suku Batin [sbv] di Jambi
  31. Bahasa Kutai di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
    1. Dialek Tenggarong - Melayu Kutai (vkt)
    2. Dialek Kota Bangun - Melayu Kutai (mqg)

Bahasa Melayu Kreol

Bahasa Melayu sudah lama dikenal sebagai bahasa antarsuku bangsa khususnya di Indonesia. Dalam perkembangannya terutama kawasan-kawasan berpenduduk bukan Melayu dan mempunyai bahasa masing-masing, bahasa Melayu mengalami proses pidginisasi dengan berbaurnya berbagai unsur bahasa setempat ke dalam bahasa Melayu dan karena dituturkan oleh anak-anaknya, bahasa Melayu mengalami proses Kreolisasi. [7] Bahasa Melayu, khususnya di Indonesia Timur diperkenalkan pula oleh para misionaris asal Belanda untuk kepentingan penyebaran agama Kristen.
Di pulau Jawa, terutama di Jakarta, bahasa Melayu mengalami proses kreolisasi yang unsur dasar bahasa Melayu Pasar tercampur dengan berbagai bahasa di sekelilingnya, khususnya bahasa Tionghoa, bahasa Sunda, bahasa Jawa, bahasa Bali, bahasa Bugis, bahkan unsur bahasa Belanda dan bahasa Portugis. Melayu dalam bentuk kreol ini banyak dijumpai di Kawasan Indonesia Timur yang terbentang dari Manado hingga Papua.
Bentuk Melayu Kreol tersebut antara lain :

Dialek luar Indonesia

Dialek-dialek bahasa Melayu di Malaysia adalah seperti berikut:
  • Dialek Utara (Kedah, Perlis, Penang & Perak Utara) : dituturkan di negara bagian Kedah, Pulau Pinang, Perlis dan bagian utara negara bagian Perak. Terbahagi kepada beberapa sub-dialek seperti Perlis, Pulau Pinang, Kedah Utara dan Kedah Hilir. Dialek yang dituturkan oleh penduduk di Kedah Timur menampakkan banyak persamaan dengan dialek Kelantan dan Pattani, dialek ini dikenali sebagai dialek Kedah Hulu.
  • Dialek Kelantan : dituturkan di negera bagian Kelantan dan daerah Besut, Terengganu. Penduduk di beberapa buah daerah di Kedah seperti Baling, Sik dan Kuala Nerang bertutur di dalam dialek yang menampakkan banyak persamaan dengan Dialek Kelantan. Dialek Kelantan merupakan sub-dialek Dialek Pattani ataupun Yawi.
  • Dialek Terengganu: dituturkan di Terengganu kecuali daerah Besut dan sebahagian negeri Pahang.
  • Dialek Perak - Dialek ini terbahagi kepada tiga pecahan kecil:
    • Dialek Perak Tengah : dituturkan di bagian tengah negara bagian Perak.
    • Dialek Perak Selatan : dituturkan di bagian selatan negara bagian Perak.
    • Dialek Perak Timur: dituturkan di bahagian timur negara bahagian Perak iaitu Lenggong, Grik dan Kroh yang bersempadan dengan Thailand, Kedah dan Kelantan. Dialek yang dituturkan mempunyai campuran Dialek Utara,Dialek Perak dan Dialek Kelantan/Petani.
  • Dialek Negeri : dituturkan di negara bagian Negeri Sembilan dan kawasan Taboh Naning, Melaka.
  • Dialek Malaka : dituturkan di negara bagian Melaka kecuali kawasan Taboh Naning.
  • Dialek Johor - Riau : dituturkan di negara bagian Johor dan selatan Pahang.
  • Dialek Pahang - Negara bagian Pahang kaya dengan pelbagai jenis dialek daerah yang dituturkan di daerah-daerah di mana Sungai Pahang mengalir:-
    • Hulu Sungai Pahang : Dialek Jerantut, Lipis, Bentong dan Raub (dituturkan dengan cepat dari segi kelajuan percakapan).
    • Pertengahan Sungai Pahang : Dialek Temerloh (dituturkan secara sederhana dari segi kelajuan percakapan).
    • Hilir Sungai Pahang : Dialek Chenor dan Pekan (dituturkan dengan perlahan dari segi kelajuan percakapan).
  • Dialek Sarawak
  • Dialek Sabah - Negara bagian Sabah mempunyai beberapa jenis dialek Melayu yaitu:-
    • Dialek Melayu Sabah - dituturkan di seluruh negara bagian Sabah dan merupakan dialek utama di negera bagian tersebut.
    • Dialek Kokos / Cocos - dituturkan oleh orang Melayu keturunan Kokos / Cocos di Tawau, Lahad Datu, Kunak, Sandakan dan Kepulauan Cocos (Keeling), wilayah Australia.
  • Dialek Baba - Sejenis dialek campuran antara bahasa Melayu dan dialek Hokkien. Dialek ini terbahagi kepada tiga pecahan kecil iaitu:-
    • Dialek Baba Melaka - dituturkan oleh kaum Baba dan Nyonya di negara bagian Melaka. Ia merupakan dialek asal bagi dialek Melayu Baba.
    • Dialek Baba Pulau Pinang - dituturkan oleh kaum Baba dan Nyonya di negara bagian Pulau Pinang.
    • Dialek Baba Singapura - dituturkan oleh kaum Baba dan Nyonya di Republik Singapura.
Dialek Johor - Riau juga dituturkan di Republik Singapura dan Provinsi Riau dan Kepulauan Riau, Indonesia.
Dialek-dialek bahasa Melayu di Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand adalah seperti berikut:
  • Dialek Singapura : dituturkan di Republik Singapura. Dialek ini merupakan pecahan dari dialek Johor-Riau.
  • Dialek Brunei : dituturkan di Kerajaan Brunei Darussalam serta bagian pedalaman, negara bagian Sabah dan Wilayah Persekutuan Labuan, Malaysia.
  • Dialek Patani : dituturkan di provinsi Pattani, Narathiwat, Yala dan Songkhla di Kerajaan Thailand.
  • Dialek Melayu Bangkok : Dituturkan oleh masyarakat Melayu di kawasan Bangkok, agak berbeda dengan dialek di bahagian Selatan Thailand.
Kini, kebanyakan angkatan baru sudah kehilangan upaya untuk bercakap dalam dialek ibu dan bapak mereka karena adanya penerapan bahasa Melayu ketetapan dalam pendidikan negara. Karena ada perbedaan dialek yang amat nyata, kadang kala penutur bahasa Melayu dari dialek tertentu tidak dapat mamahami penutur dialek yang lain terutama sekali dialek Kelantan, Sarawak dan Sabah.
Di luar wilayah tersebut, terdapat pula dialek Srilangka yang perlahan-lahan mulai punah, serta dialek Afrika Selatan, yang dipakai oleh pengikut Syekh Yusuf yang dibuang ke Cape Town.

Para-Malay

  1. Bahasa Duano' [dup] (Malaysia Barat)
  2. Bahasa Minangkabau [min] (Indonesia, Sumatera Barat)
  3. Bahasa Pekal [pel] (Indonesia, Sumatera Selatan)
  4. Bahasa Urak Lawoi' [urk] (Thailand)
  5. Bahasa Muko-Muko [vmo] (Indonesia, Sumatera, Bengkulu : Kabupaten Mukomuko)
  6. Dialek Melayu Negeri Sembilan [zmi] (Malaysia Barat, Negeri Sembilan)

Melayu-Aborigin

  1. Bahasa Jakun [jak] (Suku Jakun, Malaysia Barat)
  2. Bahasa Orang Kanaq [orn] (Orang Kanaq, Malaysia Barat)
  3. Bahasa Orang Seletar [ors] (Orang Seletar, Malaysia Barat)
  4. Bahasa Temuan [tmw] (Suku Temuan, Malaysia Barat)

Dayak-Malayik

  1. Malayan
    1. Malayic-Dayak (10)
      1. Ibanic (6)
        1. Bahasa Balau [BUG] (Sarawak)
        2. Bahasa Iban [IBA] (Sarawak, Brunei, Kalimantan Barat)
        3. Bahasa Milikin [MIN] (Sarawak))
        4. Bahasa Mualang [MTD] (Suku Dayak Mualang, Sekadau, Kalimantan Barat)
        5. Bahasa Seberuang [SBX] (Suku Dayak Seberuang, Sintang, Kalimantan Barat)
        6. Bahasa Sebuyau[SNB] (Sarawak))
      2. Bahasa Keninjal [KNL] ( Melawi, Kalimantan Barat)
      3. Bahasa Kendayan [KNX] (Sanggau Ledo, Bengkayang, Kalimantan Barat)
      4. Bahasa Selako [SKL] (Pemangkat, Sambas, Kalimantan Barat)
      5. Bahasa-bahasa Malayic Dayak [XDY] (Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah)
        1. Bahasa Balai Riam : Kabupaten Sukamara
        2. Bahasa Bulik : Kabupaten Lamandau
        3. Bahasa Waringin : Kabupaten Kotawaringin Barat
        4. Bahasa Pembuang : Kabupaten Seruyan
        5. Kota Singkawang
        6. Kabupaten Bengkayang
        7. Kabupaten Sintang
        8. Kabupaten Kapuas Hulu
        9. Bahasa Kayong : Kayong Utara, Ketapang

Bunyi

Salah satu faktor utama yang menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa yang sangat mudah untuk dipelajari disebabkan oleh sistem fonologi yang amat mudah. Bisa dikatakan hampir setiap huruf Latin mewakili satu sebutan fonem.
Senarai fonem konsonan di dalam bahasa Melayu

Bibir Bibir-
gigi
Gigi Alveolar Pasca-
Alveolar
Langit-langit Velum Uvula Celah suara
Plosif p [p] b [b]
t [t] d [d]


k [k] g [g] q [q]
k [ʔ]
Nasal m [m]
n [n] ny [ɲ] ng [ŋ]

Frikatif
f [f] v [v, ʋ] ts [θ] dz [ð] s [s] z [z] sy [ʃ, ʂ, sj]
kh [x]
h [h]
Afrikat



c [] j []



Anggaran w [w]



y [j]


Trill

r [r]



Tap

r [ɾ]



Lateral

l [l]



Catatan Ortografik:

Bahasa Indonesia


Bahasa Indonesia



Bahasa Indonesia
Dituturkan di Indonesia, Malaysia, Timor Leste, Brunei, Singapura
Daerah Indonesia, Malaysia, Timor Leste, Brunei, Singapura
Jumlah penutur 17–30 juta penutur asli
total 140–220 juta
Peringkat 56
Rumpun bahasa Austronesia
Status resmi
Bahasa resmi di  Indonesia
Diatur oleh Pusat Bahasa
Kode-kode bahasa
ISO 639-1 id
ISO 639-2 ind
ISO 639-3 ind
Indonesian Language Map.svg
Keterangan:
     Wilayah Bahasa Indonesia dominan dipertuturkan dan sebagai bahasa resmi.
     Wilayah Bahasa Indonesia dituturkan oleh minoritas.
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, bahasa Indonesia berstatus sebagai bahasa kerja
Dari sudut pandang linguistik bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau dari abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan "Bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan. Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.
Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah  bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu. Penutur Bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Meskipun demikian, Bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya, sehingga dapatlah dikatakan bahwa Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.
Fonologi dan tata bahasa Bahasa Indonesia dianggap relatif mudah. Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu.


Sejarah

Lihat pula Sejarah bahasa Melayu.

Masa lalu sebagai bahasa Melayu

Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia dari cabang bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan moderent.
Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 Masehi diketahui memakai bahasa Melayu (sebagai bahasa Melayu Kono) sebagai bahasa kenegaraan. Lima prasasti kuna yang ditemukan di Sumatera bagian selatan peninggalan kerajaan itu menggunakan bahasa Melayu yang bertaburan kata-kata pinjaman dari Bahasa Sansenkerta, suatu bahasa Indo-Eropa dari cabang Indo-Iran. Jangkauan penggunaan bahasa ini diketahui cukup luas, karena ditemukan pula dokumen-dokumen dari abad berikutnya di Pulau Jawa dan Pulau Luzon. Kata-kata seperti samudra, istri, raja, putra, kepala, kawin, dan kaca masuk pada periode hingga abad ke-15 Masehi.
Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bahasa Melayu Klasik (classical Malay atau medieval Malay). Bentuk ini dipakai oleh Kesultanan Melaka, yang perkembangannya kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semennanjung Semulaya.[rujukan?] Laporan Portugis, misalnya oleh Tome pires, menyebutkan adanya bahasa yang dipahami oleh semua pedagang di wilayah Sumatera dan Jawa. Magellan dilaporkan memiliki budak dari Nusantara yang menjadi juru bahasa di wilayah itu. Ciri paling menonjol dalam ragam sejarah ini adalah mulai masuknya kata-kata pinjaman dari bahasa Arab dan Bahasa Paris, sebagai akibat dari penyebaran agama Islam yang mulai masuk sejak abad ke-12. Kata-kata bahasa Arab seperti masjid, kalbu, kitab, kursi, selamat, dan kertas, serta kata-kata Parsi seperti anggur, cambuk, dewan, saudagar, tamasya, dan tembakau masuk pada periode ini. Proses penyerapan dari bahasa Arab terus berlangsung hingga sekarang.
Kedatangan pedagang Portugis, diikuti oleh Belanda, Spanyol, dan Inggris meningkatkan informasi dan mengubah kebiasaan masyarakat pengguna bahasa Melayu. Bahasa Portugis banyak memperkaya kata-kata untuk kebiasaan Eropa dalam kehidupan sehari-hari, seperti gereja, sepatu, sabun, meja, bola, bolu, dan jendela. Bahasa Belanda terutama banyak memberi pengayaan di bidang administrasi, kegiatan resmi (misalnya dalam upacara dan kemiliteran), dan teknologi hingga awal abad ke-20. Kata-kata seperti asbak, polisi, kulkas, knalpot, dan stempel adalah pinjaman dari bahasa ini.
Bahasa yang dipakai pendatang dari Cina juga lambat laun dipakai oleh penutur bahasa Melayu, akibat kontak di antara mereka yang mulai intensif di bawah penjajahan Belanda. Sudah dapat diduga, kata-kata Tionghoa yang masuk biasanya berkaitan dengan perniagaan dan keperluan sehari-hari, seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan cukong.
Jan Huyghen van Linschoten pada abad ke-17 dan Alfred Russel Wallac pada abad ke-19 menyatakan bahwa bahasa orang Melayu/Melaka dianggap sebagai bahasa yang paling penting di "dunia timur". Luasnya penggunaan bahasa Melayu ini melahirkan berbagai varian lokal dan temporal. Bahasa perdagangan menggunakan bahasa Melayu di berbagai pelabuhan Nusantara bercampur dengan bahasa portugis, Bahasa Tionghoa maupun bahasa setempat. Terjadi proses pidginisasi di beberapa kota pelabuhan di kawasan timur Nusantara, misalnya di Manado, Ambon, dan Kupang Orang-orang Tionghoa di Semarang dan Surabaya juga menggunakan varian bahasa Melayu pidgin. Terdapat pula bahasa Melayu Tionghoa di Batavia. Varian yang terakhir ini malah dipakai sebagai bahasa pengantar bagi beberapa surat kabar pertama berbahasa Melayu (sejak akhir abad ke-19). Varian-varian lokal ini secara umum dinamakan bahasa Melayu Pasar oleh para peneliti bahasa.
Terobosan penting terjadi ketika pada pertengahan abad ke-19 Raja Ali Haji dari istana Riau-Johor (pecahan Kesultanan Melaka) menulis kamus ekabahasa untuk bahasa Melayu. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang full-fledged, sama tinggi dengan bahasa-bahasa internasional di masa itu, karena memiliki kaidah dan dokumentasi kata yang terdefinisi dengan jelas.
Hingga akhir abad ke-19 dapat dikatakan terdapat paling sedikit dua kelompok bahasa Melayu yang dikenal masyarakat Nusantara: bahasa Melayu Pasar yang kolokial dan tidak baku serta bahasa Melayu Tinggi yang terbatas pemakaiannya tetapi memiliki standar. Bahasa ini dapat dikatakan sebagai lingua franca, tetapi kebanyakan berstatus sebagai bahasa kedua atau ketiga. Kata-kata pinjaman

Bahasa Indonesia

Pemerintah kolonial Hindia-Belanda menyadari bahwa bahasa Melayu dapat dipakai untuk membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi karena penguasaan bahasa Belanda para pegawai pribumi dinilai lemah. Dengan menyandarkan diri pada bahasa Melayu Tinggi (karena telah memiliki kitab-kitab rujukan) sejumlah sarjana Belanda mulai terlibat dalam standardisasi bahasa. Promosi bahasa Melayu pun dilakukan di sekolah-sekolah dan didukung dengan penerbitan karya sastra dalam bahasa Melayu. Akibat pilihan ini terbentuklah "embrio" bahasa Indonesia yang secara perlahan mulai terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor.
Pada awal abad ke-20 perpecahan dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat. Di tahun 1901, Indonesia (sebagai Hindi-belanda) mengadopsi ejaan Van Ophuijsen dan pada tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu (kelak menjadi bagian dari Malaysia) di bawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson. Ejaan Van Ophuysen diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu (dimulai tahun 1896) Van Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim.
Intervensi pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur ("Komisi Bacaan Rakyat" - KBR) pada tahun 1908. Kelak lembaga ini menjadi Balai Poestaka Pada tahun 1910 komisi ini, di bawah pimpinan D.A Rinkes melancarkan program Taman Poestaka dengan membentuk pepustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapa instansi milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, dalam dua tahun telah terbentuk sekitar 700 perpustakaan. Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai "bahasa persatuan bangsa" pada saat Sumpah pemudatanggal 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulan Muhammad Yamin,  seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan,
"Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan."
Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan Minagkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Suktan Iskandar, Sultan Takdir Alisyabanah Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia.

Peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan perkembangan bahasa Indonesia

  • Tahun 1908 pemerintah kolonial mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai pustaka. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel, seperti Siti nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.
  • Tanggal 16 Juni 1927 Jajah Datoek Kajo menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya. Hal ini untuk pertamakalinya dalam sidang Volksraad seseorang berpidato menggunakan bahasa Indonesia.
  • Tanggal 28 Oktober 1928 secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia.
  • Tahun 1933 berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai Pejuang Baru yang dipimpin oleh Sultan Takdir Alisyabana
  • Tahun 1936 Sutan Takdir Alisyahbana menyusun Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia.
  • Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia di Solo Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.
  • Tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar 1945 yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
  • Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan Republik sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
  • Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.
  • Tanggal 16 Agustus 1972 H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.
  • Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).
  • Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
  • Tanggal 21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.
  • Tanggal 28 Oktober s.d 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaisya, Singapura, Belanda, Jerman, d an Australia. Kongres itu ditandatangani dengan dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
  • Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.
  • Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia. Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.

Penyempurnaan ejaan

Ejaan-ejaan untuk bahasa Melayu/Indonesia mengalami beberapa tahapan sebagai berikut:

Ejaan Van Ophuijsen

Ejaan ini merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Charles Van Ophuijsen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Ma' Moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim menyusun ejaan baru ini pada tahun 1896. Pedoman tata bahasa yang kemudian dikenal dengan nama ejaan van Ophuijsen itu resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun 1901. Ciri-ciri dari ejaan ini yaitu:
  1. Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam Soerabaïa.
  2. Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang, dsb.
  3. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dsb.
  4. Tanda diarkritik,, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ’akal, ta’, pa’, dsb.

Ejaan Republik

Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini juga dikenal dengan nama ejaan Sowewandi Ciri-ciri ejaan ini yaitu:
  1. Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata guru, itu, umur, dsb.
  2. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k pada kata-kata tak, pak, rakjat, dsb.
  3. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.
  4. Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya.

Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)

Konsep ejaan ini dikenal pada akhir tahun 1959. Karena perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya, diurungkanlah peresmian ejaan ini.

 Ejaan Bahasa Indonesia yang di Sempurnakan (EYD)

Ejaan ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Peresmian itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan.
Perubahan:
Indonesia
(pra-1972)
Malaysia
(pra-1972)
Sejak 1972
tj ch c
dj j j
ch kh kh
nj ny ny
sj sh sy
j y y
oe* u u
Catatan: Tahun 1947 "oe" sudah digantikan dengan "u".

Senarai kata serapan dalam bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terbuka. Maksudnya ialah bahwa bahasa ini banyak menyerap kata-kata dari bahasa lain.
Asal Bahasa Jumlah Kata
Belanda 3.280 kata
Inggris 1.610 kata
Arab 1.495 kata
Sanskerta-Jawa Kuno 677 kata
Tionghoa 290 kata
Portugis 131 kata
Tamil 83 kata
Parsi 63 kata
Hindi 7 kata
Bahasa daerah: Jawa, Sunda, dll. ...
Sumber: Buku berjudul "Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia" (1996) yang disusun oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang bernama Pusat bahasa).

Daftar bahasa daerah di Indonesia

Penggolongan

Indonesia termasuk anggota dari Bahasa Melayu polinesia Barat subkelompok dari bahasa Melayu-polenia yang pada gilirannya merupakan cabang dari Bahasa Austronemia. Menurut situs Ethnologue, bahasa Indonesia didasarkan pada Bahasa melayu dialek Riau yang dituturkan di timur laut Sumatera

Distribusi geografis

Bahasa Indonesia dituturkan di seluruh Indonesia, walaupun lebih banyak digunakan di area perkotaan (seperti di Jakarta dengan dialek Betawi serta logat Betawi).
Penggunaan bahasa di daerah biasanya lebih resmi, dan seringkali terselip dialek dan logat di daerah bahasa Indonesia itu dituturkan. Untuk berkomunikasi dengan sesama orang sedaerah kadang bahasa daerahlah yang digunakan sebagai pengganti untuk bahasa Indonesia.

Kedudukan resmi

Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat penting seperti yang tercantum dalam:
  1. Ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 dengan bunyi, ”Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
  2. Undang-Undang Dasar RI 1945 Bab XV (Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan) Pasal 36 menyatakan bahwa ”Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”.
Dari Kedua hal tersebut, maka kedudukan bahasa Indonesia sebagai:
  1. Bahasa kebangsaan, kedudukannya berada di atas bahasa-bahasa daerah.
  2. Bahasa negara (bahasa resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia)

Bunyi

Berikut adalah fonem dari bahasa indonesia mutakhir
Vokal

Depan Madya Belakang
Tertutup
Tengah e ə o
Hampir Terbuka (ɛ)
(ɔ)
Terbuka a

Bahasa Indonesia juga mempunyai diftong /ai/, /au/, dan /oi/. Namun, di dalam suku kata tertutup seperti air kedua vokal tidak diucapkan sebagai diftong
Konsonan

Bibir Gigi Langit2
keras
Langit2
lunak
Celah
suara
Sengau m n ɲ ŋ
Letup p b t d c ɟ k g ʔ
Desis (f) s (z) (ç) (x) h
Getar/Sisi l r
Hampiran w j
  • Vokal di dalam tanda kurung adalah alofon sedangkan konsonan di dalam tanda kurung adalah fonem pinjaman dan hanya muncul di dalam kata serapan.
  • /k/, /p/, dan /t/ tidak diaspirasikan
  • /t/ dan /d/ adalah konsonan gigi bukan konsonan rongga gigi seperti di dalam bahasa Inggris.
  • /k/ pada akhir suku kata menjadi kosongan letup belah suara
  • Penekanan ditempatkan pada suku kata kedua dari terakhir dari kata akar. Namun apabila suku kata ini mengandung pepet maka penekanan pindah ke suku kata terakhir.

Tata bahasa

Dibandingkan dengan bahasa-bahasa Eropa, bahasa Indonesia tidak menggunakan kata bergender Sebagai contoh kata ganti seperti "dia" tidak secara spesifik menunjukkan apakah orang yang disebut itu lelaki atau perempuan. Hal yang sama juga ditemukan pada kata seperti "adik" dan "pacar" sebagai contohnya. Untuk memerinci sebuah jenis kelamin, sebuah kata sifat harus ditambahkan, "adik laki-laki" sebagai contohnya.
Ada juga kata yang berjenis kelamin, seperti contohnya "putri" dan "putra". Kata-kata seperti ini biasanya diserap dari bahasa lain. Pada kasus di atas, kedua kata itu diserap dari Bahasa Sansekerta melalui Bahasa Jawa Kuno.
Untuk mengubah sebuah kata benda menjadi bentuk jamak digunakanlah reduplikasi (perulangan kata), tapi hanya jika jumlahnya tidak terlibat dalam konteks. Sebagai contoh "seribu orang" dipakai, bukan "seribu orang-orang". Perulangan kata juga mempunyai banyak kegunaan lain, tidak terbatas pada kata benda.
Bahasa Indonesia menggunakan dua jenis kata ganti orang pertama jamak, yaitu "kami" dan "kita". "Kami" adalah kata ganti eksklusif yang berarti tidak termasuk sang lawan bicara, sedangkan "kita" adalah kata ganti inklusif yang berarti kelompok orang yang disebut termasuk lawan bicaranya.
Susunan kata dasar yaitu Subyek - Predikat - Obyek (SPO), walaupun susunan kata lain juga mungkin. Kata kerja tidak di bahasa berinfleksikan kepada orang atau jumlah subjek dan objek. Bahasa Indonesia juga tidak mengenal kala (tense). Waktu dinyatakan dengan menambahkan kata keterangan waktu (seperti, "kemarin" atau "esok"), atau petunjuk lain seperti "sudah" atau "belum".
Dengan tata bahasa yang cukup sederhana bahasa Indonesia mempunyai kerumitannya sendiri, yaitu pada penggunaan imbuhan yang mungkin akan cukup membingungkan bagi orang yang pertama kali belajar bahasa Indonesia.

Awalan, akhiran, dan sisipan

Bahasa Indonesia mempunyai banyak awalan, akhiran maupun sisipan, baik yang asli dari bahasa-bahasa Nusantara maupun dipinjam dari bahasa-bahasa asing.
Awalan Fungsi (pembentuk) Perubahan bentuk Kaitan
ber- verba be-; bel- per-
ter- verba; adjektiva te-; tel- ke-
meng- verba (aktif) me-; men-; mem-; meny- di-; pe-; ku-; kau;
di- verba (pasif)
meng-
ke- nomina; numeralia; verba (percakapan)
ter-
per- verba; nomina pe-; pel- ber-
peng- nomina pe-; pen-; pem-; peny- meng-
se- klitika; adverbia

ku-, kau- verba (aktif)
me-


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


ShoutMix chat widget

Yudhaime's Site
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Printable Coupons
Aditya_MAtofAni: B. Indonesia